Gunung Putri merupakan salah satu nama daerah yang letaknya di Kabupaten Bogor. Tapi tahukah Anda? Gunung Putri ternyata menyimpan cerita rakyat yang masih melegenda hingga saat ini. Berikut kisah masa silam dari Gunung Putri.

Pada zaman dahulu, ada sebuah negeri kecil yang terkenal makmur dengan penduduknya yang sejahtera. Selain karena tanahnya yang subur, negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang penuh bijaksana dan sangat perhatian terhadap rakyatnya.

Sang Raja mempunyai seorang anak perempuan bernama Putri yang memiliki paras ayu dengan kecantikan yang mampu memikat para lelaki yang melihatnya. Walaupun cantik, namun Putri bukanlah seorang yang sombong. Sebaliknya, ia justru sangat rendah hati dan senang menolong. Sudah banyak pangeran yang jatuh hati, namun tidak ada seorang pun yang berhasil menaklukan hatinya.

Setiap kali ada yang berniat memperistrinya, Putri selalu menolak dan hanya menganggap pangeran-pangeran itu sebagai kakaknya saja. Namun tidak semua orang mau menerima penolakan tersebut. Salah seorang pangeran yang ditolaknya sangat tersinggung dan sakit hati. Kepada para pengawalnya, pangeran itu meminta dicarikan orang untuk mencelakai sang Putri.

Dengan akal bulusnya, pangeran itu mendekati Putri dan berpura-pura menerima keinginan Putri yang memintanya tak lebih sebagai kakak saja. Lalu kepada Raja, si pangeran menuturkan niatnya untuk menghadirkan seorang ahli tolak bala dengan alasan untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat karena diketahui sang Putri sudah terlalu banyak menolak para pangeran, sehingga dikhawatirkan ada yang memilliki niat jahat kepadanya.

Sang Raja tentu saja setuju dengan maksud pangeran yang dianggapnya berniat baik itu. Tidak lama kemudian, datanglah si ahli tolak bala yang ternyata adalah seorang penyihir jahat. Setelah meminta izin pada Raja, penyihir itu mulai memantera-manterai sang Putri. Secara tiba-tiba, asap tebal muncul menyelimuti siapapun yang berada di situ, kecuali si penyihir, pangeran dan para pengawal pangeran.

Setelah puas melakukan aksi balas dendamnya, pangeran jahat itu pun bersiap untuk pulang. Namun entah darimana datangnya, tumbuh ratusan pohon besar di antara pangeran dan rombongannya. Alhasil mereka semua terkurung dan tidak bisa keluar dari pepohonan itu. Setiap malam tiba, di wilayah itu selalu mengeluarkan hawa dingin yang tidak seorang pun mampu menahan hawa dingin tersebut.

Daerah tempat meninggalnya sang Putri dan keluarganya, serta pangeran jahat dan rombongannya itu kemudian dikenal dengan sebutan Gunung Putri. Selain karena letaknya yang tinggi dan menyerupai gunung, pada saat-saat tertentu warga desa di sekitar Gunung Putri selalu mengadakan upacara pemberian sesaji untuk sang Putri. Konon kabarnya, sang Putri pernah muncul dan menampakkan diri pada saat penduduk desa itu tengah dilanda kesulitan pangan, dan setelah kemunculannya itu, Desa itu kembali makmur dengan pangan yang berlimpah.

Selain cerita rakyat di atas, terdapat cerita lain yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi dan Pajajaran.

Daerah Gunung Putri pada masa lampau sering menjadi tempat pertapaan para raja dari Pakuan Pajajaran, karena di sini juga terdapat makam nenek Prabu Siliwangi, yaitu Nyi Kentring. Menurut salah seorang tokoh spiritual masyarakat Kranggan, Olot Entam, setiap bulan Maulud, makam Nyi Kentring banyak diziarahi oleh ribuan orang yang datang dari berbagai pelosok.

Budaya masa lalu masyarakat Gunung Putri

Masyarakat Kranggan Gunung Putri sering dianggap sebagai komunitas dalem, sedangkan Kranggan Cibubur dianggap sebagai komunitas luar. Baik di Kranggan Gunung Putri maupun di Kranggan Cibubur, para pemimpin spiritual memiliki gelar ‘olot’ dari kata “kolot (tua)’. Olot inilah yang akan memimpin upacara spiritual di pemakaman, dan sering memberikan pituah setiap malam Jum’at.

Dalam setiap acara pituah, para pengunjung diwajibkan mengenakan iket. Menurut Olot Entam, dengan mengenakan iket kepala yang terbuat dari stangan batik itu artinya sudah teriket. Olot di Kranggan pada masa sekarang adalah Olot Gucong dan Olot Lame, jabatan olot ini biasanya diwariskan turun temurun.

Di masa lampau, olot bisa disamakan dengan resi. Sebagai pemimpin spiritual, baik olot maupun resi sama-sama menjalankan aktivitasnya, salah satunya adalah bertani. Di bawah olot terdapat kuncen, dan kuncen ini adalah orang yang memimpin Ziarah.

Dalam sistem kepercayaan masa lalu, ziarah merupakan suatu bentuk hubungan manusia masa kini dengan arwah masa lampau, agar arwah si jenat – anggota keluarga yang meninggal – tetap berada dalam lindungan keluarga yang masih hidup, itulah kenapa masih banyak makam keluarga yang umumya berlokasi di halaman atau belakang rumah.

Sumber-sumber kepercayaan tersebut diduga kuat berasal dari Pasir Angin. Ada banyak petunjuk yang mengungkapkan bahwa di Pasir Angin juga terdapat banyak komplek pemakaman. Karena umumnya orang-orang yang dimuliakan akan dimakamkan dekat menhir, seperti yang banyak ditemukan di Sumatera.

Bandul yang ditemukan di Pasir Angin memiliki fungsi sebagai piranti upacara keagamaan, meski bandul tersebut hanya dikalungkan sebagaimana perhiasan wanita. Bandul yang mirip dengan yang ditemukan di Pasir Angin uga menjadi salah sato ornamen penari dari Topeng Betawi. Hal ini bisa menguatkan dugaan bahwa tari-tari tradisional itu pada mulanya adalah bagian dari sebuah ritualisme.

donasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here