Dalam De Geschiedenis van Buitenzorg (1887) disebutkan bahwa Tanujiwa, seorang Sunda yang berasal dari Sumedang diperintahkan oleh Gubernur Jenderal Johannes Camphuys (1684-1691) membentuk barisan pekerja untuk membuka hutan di Pajajaran. Di tempat itu nantinya akan dibangun sebuah perkampungan dengan nama Kampung Baru, dan kelak menjadi cikal bakal Bogor.

 

 

Kampung Baru cikal bakal Bogor

 


Dalam catatan VOC, Tanujiwa sering juga disebut sebagai Letnan Jawa (Leuitenant der Javanen). Adapun kampung baru yang pernah didirikan oleh Tanujiwa berada di daerah Cipinang, Jatinegara (Meester Cornelis), lalu di Bogor dengan nama Parung Angsana. Setelah Tanujiwa pindah dari Cipinang ke Parung Angsana itulah, ia mengganti namanya menjadi kampung Baru, dan kelak daerah itu lebih dikenal dengan nama Tanah Baru.

Pindahnya Tanujiwa dari Cipinang di Parung Angsana tidak lain adalah karena terpengaruh oleh kunjungannya beberapa waktu sebelumnya saat menemani Scipio dalam ekspedisi mencari sisa-sisa Kerajaan Pajajaran di bekas ibukota Pakuan.

Agar tugasnya jadi lebih mudah, Tanujiwa kembali mendirikan beberapa perkampungan untuk pasukannya di antaranya adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Bantar Jati, Sempur, Baranangsiang, Parung Banteng, dan Cimahpar. Parung Angsana yang telah berganti nama menjadi Kampung Baru dijadikan sebagai pusat pemerintahan bagi Tanujiwa dalam mengelola perkampungan – perkampungan yang didirikannya.

Tanujiwa adalah seorang yang paling senior dibandingkan rekan-rekannya sesama letnan. Ia juga yang menggagas pembuatan garis batas antara wilayah pemukiman orang-orang Banten dengan orang-orang VOC saat para pengikut Pangeran Purbaya mendirikan kawasan pemukiman di daerah Cikeas.

Adapun kawasan di sekitar aliran Ciliwung antara Kedung Badak sampai ke Muara Beres dihuni oleh orang-orang Mataram yang enggan pulang ke daerah asalnya, karena adanya persetujuan antara Mataram dengan VOC pada tahun 1677. Sebagian besar orang-orang Mataram itu adalah pasukan Bahurekso, sedangkan sisanya adalah pasukan yang dikirim oleh Sunan Amangkurat I ke Muara Beres pada tahun 1661, setelah peristiwa pengepungan benteng Batavia.

Sebagai seorang Sunda, Tanujiwa sangat menaruk rasa hormat dan kecintaan terhadap bekas ibukota kerajaan Pajajaran. Perkampungan yang didirikannya pun tidak melewati batas aliran Sungai Ciliwung karena ia takut merusak dan menghilangkan situs bersejarah peninggalan nenek moyangnya. Okupansi wilayah untuk pemukiman dilakukannya hanya di sepanjang sisi utara dari Sungai Ciliwung mulai dari Tanah Baru, Bantar Jati sampai ke Ciawi dan Cisarua.

 

 
peta kampung baru buitenzorg
Peta Kampung Baroe tahun 1771

 

 

 

Tanujiwa menjadi Kepala Kampung Baru yang membawahi kampung-kampung lain yang terletak di pinggiran sungai Ciliwung. Hal ini tercantum dalam sebuah dokumen bertanggal 7 November 1701. Pada tahun 1704, Ia memerintahkan agar orang-orang Banten mengurungkan niatnya untuk menduduki Parung Banteng dan Tangkil, untuk selanjutnya ia menetapkan daerah-daerah perbatasan yang di antaranya dalah Ciluar dan Cikeas.

Mas Atje Salmoen (M.A Salmun) penah mengungkapkan dalam tulisannya di majalah Intisari terbiatan pertama bahwa lagu Ayang-ayang Gung yang populer di kalangan anak-anak Sunda tempo dulu menceritakan mengenai sosok Tanujiwa yang dalam lirik lagu tersebtu disebut sebagai Menak Ki Mas Tanu. Lagu ini banyak menceritakan kisah hidup Tanujiwa yang menjadi anak emas Kumpeni (VOC) sehingga dibenci oleh rekan-rekannya yang iri kepadanya. Tanujiwa ditunjuk oleh Camphuys menggantikan Letnan Pangirang (asal Bali) untuk membuka hutan di wilayah Selatan Batavia.

Kedekatan batin dan kecintaannya terhadap tanah kelahiran dan Pajajaran telah menyadarkan Tanujiwa. Akibatnya hubungannya dengan VOC mulai melonggar. Terlebih lagi Tanujiwa bersekutu dengan Haji Perwatasari untuk menolak perluasan daerah kekuasaan VOC.

Tanujiwa berhasil ditangkap, dan sebagai hukumannya ia dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika yang dahulu merupakan negara jajahan Belanda. Bisa dikatakan, cerita tentang Tanujiwa dengan VOC itu sangatlah mirip dengan kisah tentang Untung Suropati yang juga menjadi letnan untuk VOC.

Meski pernah menjabat sebagai kepala kampung baru, namun Tanujiwa tidak disebutkansebagai bupati pertama dalam Babad Bogor (1925). Babad tersebut hanya menyebutkan Mentangkara atau Mertakara, kepala kampung baru yang ketiga (1706-1719), yang kuat dugaan ia adalah putra dari Tanujiwa. Namun sebaliknya, penulis Belanda lebih sering menyebutkan nama Tanujiwa sebagai Bupati pertama Bogor yang pernah memerintah Kampung Baru sebagai cikal bakal BOGOR.

 

donasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here