Sejarah Kelam Istana Bogor

Kondisi Istana Bogor setelah kekalahan Jepang terlihat jauh berbeda saat gedung ini masih dihuni oleh para Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dinding istana dilapisi oleh cat berwarna gelap yang sebagian sudah mulai mengelupas catnya. Rumput istana yang dulu tertata rapih berubah menjadi semak belukar. Saat itulah, ratusan pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) mengambil alih istana di tengah kekosongan pemerintahan pada tahun 1945.

Pasukan kekaisaran Jepang (Dai Nippon) yang berhasil mengusir Belanda dan menduduki Nusantara sejak 1941 menjadikan komplek Istana Bogor ini sebagai markas mereka. Ruang bawah tanah istana dirubah menjadi ruangan tahanan dengan sel sempitnya. Orang-orang Belanda maupun keturunannya ditangkap Jepang, lalu dikumpulkan dalam sebuah kamp konsentrasi yang tersebar di beberapa daerah.

Untuk melindungi bangunan ini dari pantauan musuh di udara, tentara Jepang melapisi dinding istana dengan cat yang berwarna gelap. Begitu pun kolam-kolam yang dulu menghiasi halaman istana ditimbun tanah, lalu di atasnya ditanami rumput dan semak untuk mengelabui musuh.

Halaman istana dibiarkan tidak terurus, sedangkan rusa-rusa yang berkeliaran di halaman istana ditangkapi untuk dijadikan santapan penambah energi bagi serdadu Jepang. Alhasil, rusa yang dulu berjumlah ratusan ekor itu kini tersisa puluhan ekor saja.

Bukan itu saja, Jepang juga menjarah benda-benda seni yang bernilai tinggi yang sebelumnya ada di dalam Istana Bogor. Beberapa keris, tombak, dan benda-benda pusaka peninggalan kerajaan-kerajaan di Nusantara dicuri dan dijadikan hadiah untuk sang Kaisar.

Adapun barang-barang yang terbuat besi mulai dari tiang lampu yang didatangkan dari Eropa, pagar besi, hingga elemen artistik Istana dikumpulkan untuk dijadikan bahan untuk membuat senjata dalam rangka menyukseskan gerakan mereka untuk mendirikan Asia Raya.

Serangan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945, membuyarkan impian Jepang untuk menguasai dunia. Kekalahan telak tersebut menjadikan mereka juga harus hengkang dari tanah jajahannya, termasuk Indonesia. Dalam kondisi itulah, beberapa bulan setelah para pendiri bangsa ini memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia para pemuda BKR kembali menduduki Istana Bogor setelah berabad-abad lamanya dikuasai oleh pemerintah kolonial.

sejarah istana bogor

Kedatangan tentara Sekutu yang awalnya bertujuan untuk menjaga keamanan dan memulangkan tentara Jepang yang masih tersisa ke negara asalnya menuai konflik baru, karena mereka juga membawa serta pasukan militer Belanda yang mengatasnamakan NICA. Dalam hal ini, Belanda melancarkan agresi militernya untuk menguasai kembali tanah jajahan yang terkenal kaya akan sumber alamnya ini.

Pendudukan pemuda BKR tidak berlangsung lama, karena mereka dengan berat hati harus meninggalkan Istana setelah didesak oleh Sekutu yang dipimpin Inggris dan Australia. Sejak 1945 s/d 1947 Istana Bogor telah dikuasai oleh Sekutu dan Belanda untuk dijadikan markas untuk tentara-tentara mereka.
Penyerahan Istana Bogor secara resmi terjadi pada tahun 1949, yaitu setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, Belanda memang enggan mengakui hal tersebut. Belanda berdalih Indonesia baru merdeka pada 29 Agustus 1949, yaitu saat penyerahan kedaulatan di Belanda melalui KMB (Konferensi Meja Bundar).
Namun sebelum diserahkan kepada pemerintah RI, Belanda terlebih dahulu mengungsikan koleksi barang seni bernilai tinggi yang masih tersisa di dalam Istana untuk dibawa ke negaranya. Barang yang tersisa di dalam istana hanyalah lima buah cermin berukuran besar, yang hingga kini masih tersimpan di dalam ruangan istana Bogor.
Pekerja mengeluarkan barang-barang bernilai seni tinggi dari Istana Bogor

 

Meskipun telah menjadi milik pemerintah Republik Indonesia, namun Istana Bogor belum mendapat perhatian dari para petinggi negara. Baru setelah tahun 1952, Presiden Sukarno secara bertahap melakukan renovasi terhadap bangunan istana.

Pemugaran tersebut meliputi penambahan sebuah beranda di bagian depan bangunan induk yang ditopang oleh tiang besi berjumlah enam buah. Beranda tersebut terhubnung sampai ke serambi depan sehingga selain berfungsi untuk menambah keanggunan istana, juga menjaga tamu dan pengunjung istana dari hujan yang sering turun di Bogor. Selain itu, jembatan kayu yang menghubungkan bangunan induk dengan sayap diganti menjadi koridor.

Upaya pemugaran istana dipercepat waktunya setelah adanya pertemuan pemimpin lima negara di Colombo pada tahun 1954. Pada tahun yang sama, dibangun pula lima buah pavilion di halaman istana yaitu pavilion Amarta, Pringgodani, Madukara, Dwarawatim, dan Jodipoti yang kelak dikenal dengan nama Pavilion 1,2,3,4 dan 5.

Sampai saat ini, keberadaan Istana Bogor memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga Bogor, terlebih lagi di daerah ini pada dulunya juga pernah berdiri Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan istananya yang berada di sekitaran Batutulis.

 

Artikel Terkait

Sejarah dan Asal Usul Pasar Bogor

ariesmunandi

Sejarah SMP Negeri 1 Kota Bogor

ariesmunandi

Sejarah Jalan Raya Puncak

ariesmunandi

Bogor pada tahun 1945

ariesmunandi

Gempa Bumi saat penobatan Prabu Siliwangi

ariesmunandi

Wisata Edukasi di Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia

ariesmunandi

Leave a Comment