Darmaga atau dramaga? Penyebutan nama salah satu wilayah kecamatan di Bogor kerap memunculkan polemik mengenai asal usulnya. Banyak yang menyebutnya dengan sebutan dramaga, tetapi ada juga yang menyebut darmaga atau dermaga yang lebih sesuai dengan ejaan dalam bahasa indonesia. terlepas dari mana yang benar, namun wilayah ini memiliki alur sejarahnya sendiri yang menjadi asal usul penyebutan namanya.

Sejarah Bogor sudah dimulai sejak berdirinya kerajaan-kerajaan di Nusantara mulai dari Salakanagara, Tarumanagara, hingga Kerajaan Sunda terbesar terakhir di Jawa “Pakuan Pajajaran”. Bekas-bekas peninggalannya masih bisa kita lihat sampai saat ini seperti prasasti Ciaruteun dan Tapak Gajah yang lokasinya dekat dengan Kampung Muara.

Konon menurut cerita orang-orang tua dahulu, Kampung Muara pada jaman dahulu adalah sebuah kota pelabuhan sungai yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Sungai Cianteun dengan Sungai Cisadane. Sedangkan daerah Gunung Kapur dulu pernah menjadi sebuah Dermaga atau Darmaga. Mungkin dari cerita turun temurun itulah asal usul nama Darmaga di Bogor.

Namun demikian, tentu akan sangat sulit sekali menemukan bukti mengenai Dermaga tersebut, terlebih melihat kondisi geografis pada saat ini. Padahal orang-orang Eropa sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-17, tetapi hingga kini belum ada lukisan atau foto yang mendokumentasikan hal tersebut.

Sebuah lukisan karya Johannes Rach tahun 1770, menggambarkan dengan jelas sebuah kapal berbendera Belanda berlabuh di kawasan ini. Tapi jangan salah, kapal dalam lukisan tersebut bukanlah kapal asli, melainkan sebuah replika kapal yang sengaja dibuat oleh Demang Jawitara untuk menyambut kedatangan Gubernur Jenderal van der Parra ke wilayahnya, sekaligus mengenang pengasingannya ke Tanjung Harapan oleh VOC.

Litographi Johannes Rach tahun 1770 menggambarkan suasana Dramaga saat itu
Litographi Johannes Rach tahun 1770 menggambarkan suasana Dramaga saat itu

 

Selain penyebutan Darmaga, ucapan paling populer yang banyak digunakan masyarakat Bogor adalah Dramaga. Hal ini dapat terlihat dari papan-papan penunjuk jalan, tulisan di peta maupun angkutan kota (Angkot), juga di website-website yang menyebut kata Dramaga.

Menurt versi lain, kata Dramaga konon memiliki arti tambakan susukan atau turap sungai. Keberadaan turap-turap kecil inilah sampai saat ini msih dapat ditemukan di sekitaran Sawah Baru di dekat sebuah hotel di Dramaga.

Saat kota ini masih bernama Buitenzorg, Dramaga dan sebagian besar daerah lainnya di Bogor dikuasai oleh satu orang tuan tanah yaitu G.W.C van Motman (1773-1821). Ia adalah orang yang paling beruntung semenjak bergabung dengan VOC. Di negara asalnya van Motman bukanlah siapa-siapa, sebagian besar keluarganya meninggal akibat TBC. Setelah bekerja di VOC dan mengadu nasib di Hindia Belanda itulah, van Motman membeli sebidang tanah di Buitenzorg sampai kemudian menguasai hampir sepertiga wilayah BOGOR pada saat itu.

Keluarga van Motman tinggal di Dramaga di sebuah rumah mewah berukuran besar yang dinamakannya Groote Dramaga. Rumah peninggalan van Motman itu adalah yang sekarang digunakan menjadi Wisma Tamu Institut Pertanian Bogor (IPB).

Demikian kupasan singkat mengenai asal usul nama Dramaga Bogor.

donasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here