Gunung Gadung berada di Jalan raya Cipaku, Bogor Selatan. Lokasinya terletak tidak jauh dari kawasan Batu Tulis yang dahulu pernah menjadi komplek Keraton Kerajaan Sunda Galuh Pakuan Pajajaran. Menurut cerita, di Gunung Gadung inilah tempat Puteri Kerajaan Pajajaran menyaksikan hancurnya keraton Pakuan Pajajaran.

Gunung Gadung sekarang telah menjadi tempat pemakaman umum (TPU) yang sangat terkenal di kalangan etnis Tionghoa. TPUI Gunung Gadung memiliki luas 120 hektar yang berdampingan dengan perkampungan warga. Jika menyusuri sepanjang Jalan Cipaku Raya, maka akan disuguhkan dengan pemandangan makam-makam bergaya Tionghoa.

Padahal pada zaman dahulu, daerah Gunung Gadung terkenal dengan lahannya yang subur, di beberapa tempatnya banyak ditemukan deretan kebun dan sawah yang menghijau. Hingga kini, belum diketahui secara pasti kapan kawasan ini mulai digunakan menjadi Tempat Pemakaman Umum untuk etnis Tionghoa.

Dalam cerita pantun berjudul “Dadap Malang Sisi Cimandiri” karya Aki Bajurambeg dari Pakulonan Jasinga Bogor menyebutkan bahwa daerah Gunung Gadung pernah menjadi tempat pertarungan Puteri Purnamasari, Rakean Kalang Sunda, dan Kumbang Bagus Setra dengan pasukan Banten.

Melalui Gunung Gadung ketiganya melarikan diri dari kejaran pasukan Banten dan menuju ke arah pantai Selatan (sekarang Pelabuhan Ratu). Dari bukit Gunung Gadung pula, ketiganya menyaksikan kobaran api yang membakar keraton Pakuan Pajajaran di senjakala.

Peristiwa runtuhnya Pajajaran terjadi pada tahun 1579 Masehi, dan menjadi penutup cerita kejayaan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran sebagai kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa.

Kedahsyatan api yang membakar komplek Pakuan Pajajaran itu diceritakan oleh sang juru pantun sebagai berikut:

Peuting harita, peuting di gunung Gadung tapi lain peuting anu jempling!
Lantaran ti sareupna poek turun ngarurub alam, bebence pulang anting, ting geleper teu eureun-eureun.
Tuweue patembal-tembal, pagandeng-gandeng…jeung diditu-didieu, ting arabrul ajag sabari regag…!!

( Malam itu, malam di Gunung Gadung tapi bukan malam yang hening!
Karena sejak datangnya senja kala memeluk alam, suara binatang makin terdengar.. pergi dan datang, menggelepar tiada henti.
Burung malam bersahutan, nyarin terdengar, dan dari situ juga gerombolan anjing ajak mendengus datang karena lapar.)

Bagian pantun lainnya menyebutkan:

” Malam itu jauh di kaki bukit gunung Gadung, berserakan mayat yang luka dan bau anyir dari darah yang mengalir, mengundang binatang buas harimau, ular, biyawak dan anjing hutan memagut daging dan kulit mayat. Kasihan yang belum mati yang hanya terluka parah tapi masih hidup, mereka menjadi santapan harimau hutan, sampai jeritan sakit terdengar pilu memecah malam yang hening “

Naskah yang lebih tua lagi menyebutkan tentang Gunung Gadung yang menjadi tempat bersemayamnya salah seorang raja Sunda. Namun daerah yang dimaksud dalam naskah tersebut adalah Gunung Samaya, tetapi mempunyai arti yang sama dengan Gunung Gadung. Disebutkan bahwa tempat ini adalah tempat dimakamkannya Prabu Susuktunggal atau Prabu Haliwungan sang Raja Sunda.

Nama Gadung berasal dari nama sebuah pohon yang dulu banyak tumbuh di daerah ini. Pohon Gadung adalah sejenis tumbuhan yang buahnya dapat dikonsumsi setelah buahnya dimasak, baik dengan cara dibakar maupun dikukus. (Aries Munandi)

Leave a Reply