Sejarah dan Asal Usul Pasar Bogor

0
119

Pasar Bogor merupakan salah satu pasar terbesar yang ada di Kota Bogor. Pasar tradisional ini bahkan sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) yang terkenal dengan keserakahan dan skandal korupsinya.

Semasa memimpin Hindia Belanda, Gubernur Jenderal van der Parra banyak menuai kebencian dari orang-orang sekitar karena skandal korupsi dan gaya hidupnya yang terlampau mewah pada zamannya.

Di era kepemimpinannya juga (1761 -1765), van der Parra membuka bisnis sewa menyewa lahan yang dikuasai oleh pemerintah Kolonial. Lahan-lahan itu ia sewakan kepada siapa saja yang mau menggunakannya, termasuk para bumi putera.

Hal tersebut tentu saja mengundang kontroversi di kalangan pejabat tinggi Hindia Belanda. Apalagi pada saat itu, VOC melarang siapa saja selain orang-orang Eropa untuk melakukan aktivitas bisnis di Buitenzorg, karena daerah ini sudah ditetapkan hanya untuk tempat peristirahatan Gubernur Jenderal dan para pejabat negara.

Bukan tanpa alasan kalau van der Parra membiarkan orang-orang Pribumi untuk berbisnis di wilayahnya. Karena usaha sewa menyewa tanah yang dilakukan oleh para Gubernur Jenderal sebelumnya telah memberikan keuntungan yang sangat besar.

Van der Parra memang orang yang sangat gila harta dan suka bermewah-mewah. Bahkan karena perilakunya tersebut, ia pernah mendapatkan ancaman pembunuhan termasuk juga upaya untuk menjatuhkannya dari kursi pimpinan Gubernur Jenderal.

Lahan yang disewakan oleh van der Parra letaknya di sebelah timur Istana, tidak jauh dari sebuah perkampungan yang didirikan oleh Tanoedjiwa. Lahan tersebut berupa sebuah lapangan atau alun-alun yang konon pada waktu Kerajaan Pajajaran masih berdiri sering digunakan sebagai tempat berlatih para prajurit kerajaan.

Karena berdekatan dengan kampung baroe, maka pasar ini pun dinamakan Pasar Baroe. Awalnya, jadwal operasional pasar dibuka hanya seminggu sekali, namun setelah banyaknya orang-orang pribumi dan Tionghoa tertarik untuk berusaha di sini, maka waktu operasional pasar ini ditambah menjadi dua kali seminggu, yaitu setiap Senin dan Jumat.

Dengan semakin ramainya aktivitas jual beli di pasar ini, maka semakin banyak juga orang-orang pribumi maupun tionghoa yang memilih tinggal dan menetap di kawasan ini. Seiring dibangunnya klenteng Hok Tek Bio, kawasan ini kemudian dikenal dengan nama Handelstraat atau Jalan Perniagaan.

Kawasan pemukiman yang semula berada di sekitar lelerang Ciliwung yaitu di lebak Pasar, menjalar sampai ke atas hingga ke Jalan Perniagaan. Gudang-gudang untuk menyimpan hasil bumi yang dibawa oleh para pedagang mulai didirikan (asal usul Kampung Gudang).

Setelah jalur kereta api dibangun pada tahun 1873, maka waktu operasional pasar pun menjadi setiap hari. Statusnya pun berubah, dari yang tadinya pasar lokal naik status menjadi pasar regional dengan nama baru Pasar Bogor. Adapun untuk pasar lokal diberikan kepada Pasar Anyar yang dibangun tidak lama setelah Stasiun Bogor diresmikan.

 

= Koleksi foto Pasar Bogor dari masa ke masa =

 

Sumber foto: pribadi, KIT Leiden, Nationaal Archief 


= Lokasi Pasar Bogor =

 

Subscribe Channel resmi Youtube kami di

[sm-youtube-subscribe]

Leave a Reply

%d bloggers like this: