Pada umumnya, nama perkampungan dan tempat di Bogor sebagian besar disesuaikan dengan kondisi alam, nama tumbuhan, maupun topografinya. Ada juga nama wilayah yang berhubungan dengan sejarahnya atau cerita yang pernah terjadi di daerah tersebut. Hal ini telah menjadi budaya dan kebiasaan yang sudha mengakar sejak dahulu. Salah satu yang masuk pembahasan pada kali ini adalah daerah Lawang Gintung yang memiliki sejarah dan asal-usulnya sendiri.

Lawang Gintung teletak di Kecamatan Bogor Selatan. Dibandingkan nama daerah lainnya, Lawang Gintung adalah satu-satunya nama yang tidak akan ditemukan di daerah manapun.

Terdapat dua versi penggunaan nama Lawang Gintung untuk daerah ini. Menurut buku Toponimi Bogor yang ditulis oleh Eman Sulaeman, Dua versi penyebutan nama Lawang Gintung adalah sebagai berikut:

  1. Di daerah Lawang Gintung dulunya merupakan pintu gerbang masuk menuju keraton Pakuan Pajajaran yang berbentuk gapura beratap yang disamping kanannya ditumbuhi dengan pohon gintung. Pohon ini memiliki buah yang disebut “gadog” yang tidak dapat dimakan. Dalam bahasa Sunda ada peribahasa “Dipiamis buah gintung” yang bermakna “disangka baik hati ternyata justru sebaliknya”.
  2. Versi lain menyebutkan bahwa di daerah ini dulunya terdapat sebuah jembatan dengan pintu masuk gantung yang bisa diangkat dan ditutup dengan cara ditarik ke atas. Penariknya terbuat dariĀ  tambang besar atau rantai yang ditarik oleh tenaga manusia, seperti dalam film-film kerajaan klasik Inggris. Di bawah jembatan biasanya terdapat sebuah selokan atau sungai yang dalam.

Lawang yang digantung ini disebut Lawang Gintung, dan berada di area masuk ke kampung Lawang Gintung ( dulunya adalah komplek pabrik “Tulus Rejo” lalu menjadi Toko Tas). Di belakangnya ada aliran sungai Cipeucang. Daerah ini di zaman VOC pernah dijadikan perkebunan tarum, lalu penduduknya dipindahkan ke daerah yang menjadi Gang Sekip. Setelah itulah, kampung Lawang Gintung dipindahkan ke lokasi yang sekarang, dan lokasi pabrik ini berdekatan dengan gerbang pakuan.

Jika menyusuri jalan Lawang Gintung di masa kerajaan Pajajaran masih berdiri, maka sebelum memasuki area batu tulis akan dijumpai lima bangunan Keraton pakuan yang berdiri di sisi kanan Jalan Lawang Gintung yaitu Keraton Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat gunungan yang terbuat dari tanah dan bebatuan yang memisahkan komplek Pakuan.

 

Leave a Reply