Puncak dengan udaranya yang sejuk menjadikan daerah ini sebagai magnet pariwisata bagi Kabupaten Bogor. Suasana alamnya yang berbeda menjadikan kawasan Puncak mempunyai ciri khas yang berbeda dari tempat wisata lain yang ada di tanah Pasundan. Namun sayang, fungsinya sebagai kawasan penyangga seolah tidak terjaga. Imbasnya, setiap musim penghujan tiba, banjir kiriman akan datang menuju Jakarta tanpa terbendung.

Sebelum para pelancong timur tengah datang ke Puncak tahun 1990an, kawasan ini dikenal sebagai daerah hijau dengan hutan-hutannya yang masih lebat. Namun setelah tahun 1991, Puncak mulai padat dengan pemukiman. Seiring makin ramainya pelancong datang berkunjung, maka semakin marak pula bangunan penginapan dan villa-villa berdiri di sepanjang Jalan raya Puncak.

Jejeran villa-villa mewah itu berdiri di sepanjang jalan kampung di Desa Tugu Utara hingga lereng Megamendung. Memasuki musim liburan, akan banyak pelancong asal Timur Tengah yang berdatangan ke daerah ini. Tak kalah meriahnya, Desa Tugu Selatan pun cukup ramai dengan jejeran villa yang berdiri di sepanjang jalan menuju perkebunan teh Gunung Mas.

Pada mulanya, kawasan sekitar Pangrango ini adalah rimba belantara. Pada tahun 1889, oleh pemerintah Hindia Belanda ditetapkan sebagai kawasan cagar alam untuk kepentingan penelitian. Atas usulan direktur Lands Plantentuin (Kebun Raya Bogor), Dr. Melchior Treub, maka dididirikanlah Kebun Raya Cibodas seluas 280 ha untuk tujuan penelitian flora pegunungan.

Sejak itulah, mulai dari Cisarua sampai Cibodas sudah dipenuhi oleh kebun-kebun pertanian milik orang-orang Belanda. Perkebunan teh di kawasan ini sudah ada sejak 1728. Setelah tahun 1835, perkebunan teh ini terus berkembang hingga daerah Cikopo dan Ciawi.

 

Setelah dibukanya hutan di area Puncak oleh pemerintah Belanda, pada tahun 1872 terjadi banjir yang disebabkan oleh meluapnya aliran Sungai Ciliwung yang berhulu di Puncak. Luapan airnya menerjang kebun dan rumah-rumah penduduk. Di Batavia, banjir akibat luapan Sungai Ciliwung terjadi di beberapa wilayah termasuk kawasan elit Molenvliet (Harmoni).

Pembukaan hutan di kawasan Puncak sudah terjadi sejak awal abad 18, yaitu saat pemerintah kongsi dagang Belanda VOC mulai mendirikan Kampung Baru, yang kelak menjadi cikal bakal Buitenzorg (Bogor). Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal G.W. van Imhoff (1743-1750) mendirikan rumah peristirahatan yang dinamakannya Villa Buitenzorg, lalu menetapkan daerah ini menjadi lahan perkebunan dan pertanian sebagai kawasan percontohan bagi daerah-daerah lainnya di Nusantara.

Pada tanggal 18 Mei 1817, Kampung Baru mulai didirikan, dan dibangun pula sebuah kebun botani dengan kolamnya. Kebun ini memiliki bentang alam yang sangat sempurna dan berada di tengah rimbun pepohonan, termasuk pohon beringin yang sangat disucikan oleh penduduk setempat.

Akan tetapi, seiring keinginan pemerintah Hindia Belanda melakukan penelitian botani di daerah ini, mereka juga tertarik untuk membuka lahan-lahan perkebunan teh yang letaknya di lereng Gunung Gede Pangrango.

Dampak dari penggundulan hutan-hutan di daerah Puncak untuk pemukiman dan perkebunan di era van Imhoff, maka aliran Sungai Ciliwung semakin tidak terkendali, apalagi jika hujan turun dengan sangat lebat di area hulu. Dampaknya terjadi pada Bendung Katulampa yang dibangun pada tahun 1749. Bendung yang difungsikan untuk mengukur ketinggian dan debit air sebelum mengalir ke Batavia ini sering rusak diterjang air bah yang datang secara tiba-tiba.

Sejak itulah, banjir senantiasa menerjang Jakarta.

 

Leave a Reply