Kujang Pusaka Jawa Barat

0
32
Kujang Pusaka Jawa Barat

Kujang adalah senjata pusaka khas Jawa Barat yang sudah digunakan sejak abad 8 Masehi. Senjata yang juga digunakan oleh Prabu Siliwangi ini dibuat dari perpaduan besi, baja, dan nikel, dan batu meteor. Corak yang dihasilkan dari sebilah kujang itulah yang dinamakan Pamor.

Menurut penuturan para ahli, kujang berasal dari dua buah kata yang disambungkan yaitu “Kudi” dan “Hyang“. Kudi berasal dari bahasa Sunda kuno yang bermakna senjata sakti yang memiliki kekuatan ghaib. Oleh karenanya, pada masa lalu kujang kerap dijadikan sebagai jimat atau penolak bala, seperti untuk menghalau musuh maupun menghindarkan diri dari bahaya dan penyakit. Biasanya, senjata Kujang disimpan dalam sebuah peti atau tempat khusus sebagai pusaka untuk melindungi rumah dari mara bahaya.

Sedangkan Hyang berarti Dewa. Bagi masyarakat Pasundan, Hyang memiliki arti dan kedudukan di atas Dewa-Dewa. Dengan demikian, Kujang memiliki makna dan pengertian sebagai senjata pusaka dengan kekuatan tertentu (ghaib) yang diturunkan oleh para Dewa atau Hyang.

Di Jawa Barat, Kujang menjadi salah satu estetika yang digunakan sebagai lambang-lambang organisasi maupun pemerintahan. Bagi masyarakat Sunda, Kujang sudah menjadi simbol Jati Diri Sunda dan sering dikait-kaitkan dengan kejayaan Prabu Siliwangi.

Kujang awalnya digunakan untuk pertanian 

Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518) menyebut bahwa pada masa lalu, kujang  masih digunakan sebagai peralatan pertanian. Sampai saat ini, penggunaan kujang sebagai alat untuk pertanian masih dapat disaksikan di daerah Baduy, Banten, dan Pancer Pangawinan Sukabumi.

Seiring perkembangan zaman, Kujang mengalami pergeseran bentuk, budaya, fungsi dan artinya. Dari peralatan pertanian, Kujang dikembangkan menjadi senjata yang berkarakter, sakral, dan simbolik. Perwujudan Kujang yang demikian diperkirakan baru dibuat antara abad 9 sampai abad 12.

Kujang sebagai senjata dan pusaka 

Kujang Pusaka Jawa Barat
Kujang Pusaka Jawa Barat

 

Karakteristik dari sebuah kujang memiliki sisi yang tajam dengan bagian-bagiannya (waruga), yaitu:

  1. Papatuk atau congo yang merupakan bagian ujung kujang yang menyerupai paruh burung atau mata panah.
  2. Eluk atau Silih yang merupakan lekuk pada bagian punggung (tonggong).
  3. Tadah yang merupakan lengkungan menonjol di bagian perut (beuteung).

Mata yang berupa lubang kecil yang biasanya ditutupi logam emas dan perak.
Selain dari karakteristiknya, bahan yang dijadikan untuk membuat Kujang sangatlah unik. Bahannya cenderung tipis, kering, dan berpori serta memiliki banyak unsur logam alamnya.

Jenis-jenis Kujang 

Pantun Bogor menyebutkan Kujang dalam beragam fungsi dan bentuknya, yaitu:

  • Kujang Pusaka yang digunakan sebagai lambang keagungan dan keselamatan
  • Kujang Pakarang yang digunakan untuk pertempuran
  • Kujang Pangarak yang digunakan dalam sebuah upacara adat
  • Kujang Pamangkas yang digunakan sebagai alat untuk pertanian

Di Jawa Barat, Kujang terdiri beragam jenis yang umumnya diberinama sesuai bentuknya, yaitu:

jenis jenis kujang

Keterangan gambar:

1-2. Kujang Ciung yang memiliki bentuk ujung (papatuk) seperti burung beo atau ciung.

3. Kujang Kuntul yang memiliki bentuk papatuh mirip burung kuntul atau bango.

4. Kujang Jago yang memiliki bentuk seperti ayam jantan (ayam jago).

5. Kujang Bangkong dengan bentuknya yang menyerupai katak.

6. Kujang Naga yang memiliki bentuk meliuk seperti kepala naga.

7. Kujang Badak yang memiliki bentuk seperti badak.

Selain itu, ada juga bilah kujang yang berbentuk seperti tokoh wanita dalam dunia pewayangan yang dikaitkan sebagai simbol kesuburan.

Jumlah mata (lubang) kujang sebagai simbol status 

Sebuah kujang akan memiliki lubang atau mata yang berjumlah 1 s/d 9. Jumlah mata tersebut mengandung nilai falsafah yang tinggi dan sering dikaitkan sebagai simbol status dari orang yang memilikinya.

Jumlah lubang atau mata para Kujang dapat diartikan sebagai berikut:

  • lubang 1 disebut ngaherang
  • lubang 2 disebut lumenggang
  • lubang 3 disebut gumulung
  • lubang 4 disebut gumelar
  • lubang 5 disebut mangrupa
  • lubang 6 disebut usik
  • lubang 7 disebut malik
  • lubang 8 disebut ngajadi
  • lubang 9 disebut medal
  • lubang 10 atau kembali ke 0 disebut nunggal, suwung

Mata atau lubang pada kujang pusaka jawa barat adalah simbol mandala atau dunia / alam yang dilalui manusia. Jumlah mata pada kujang diartikan sebagai berikut:

  • Kujang mata sembilan (Mandala Agung) biasanya dipegang oleh Raja Brahmesta dan Pandita agung.
  • Kujang mata delapan (Mandala Sama).
  • Kujang mata tujuh (Mandala Jati) dipegang oleh Prabu Anom, Mantri dangka dan Para pandita.
  • Kujang mata enam (Mandala Suda).
  • Kujang mata lima (Mandala Seba) dipegang oleh bupati, geurang serat, dan geurang puun.
  • Kujang mata empat (Mandala Rasa atau Wesi Kuning) dipegang oleh para putri menak keraton.
  • Kujang mata tiga (Mandala Karma) dipegang oleh para puun.
  • Kujang mata dua (Mandala Permana).
  • Kujang mata satu (Mandala Kasungka) dipegang oleh para guru tangtu agama.

Demikian ulasan singkat mengenai sejarah dan asal usul Kujang Pusaka Jawa Barat.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply