Suatu pagi tanggal 5 Januari 1699, tanah Bogor diguncang oleh gempa dengan kekuatan yang sangat besar. Bahkan kekuatan dari guncangan gempa tersebut sampai ke Bantam (Banten), Lampung dan Batavia (Jakarta). Sejarawan menulis bahwa gempa bumi yang terjadi di tahun 1699 ini adalah gempa bumi bersejarah pada abad ke-17.

Nusantara pada tahun 1699 sudah diduduki oleh VOC-Belanda pimpinan Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn (1691-1704). Kondisi Bogor pada saat itu sudah ada beberapa daerah pemukiman Kampung Baru yang dahulu dibentuk oleh tanudjiwa atas perintah Gubernur Jenderal sebelumnya yaitu Joanes Camphuijs pada tahun 1687.

Tidak diketahui dengan pasti kerusakan akibat gempa di Buitenzorg (Bogor) tersebut. Namun ada catatan mengenai perkiraan para ahli mengenai asal muasal gempa besar tersebut, yaitu:

  • Terjadi erupsi di Gunung Salak pada malam 4 Januari 1699. Erupsi yang disusul oleh gempa besar itu menyebabkan lereng Gunung Salak longsor dan terbelah. Longsoran lumpur bercampur tanah dan bebatuan besar itu menimpa aliran Sungai Ciliwung, yang menyebabkan terganggunya akses transportasi dan juga ketersediaan air bersih untuk Batavia.
  • Perkiraan lain adalah pusat gempat berada di suatu tempat antara Cisalak hingga Lampung.
  • Gempa bumi pada tahun 1699 itu juga bisa terjadi akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang termasuk dalam Zona Megathrust. Ada tiga lokasi Zona Megathrust di Jawa yang berpotensi memicu gempa besar yaitu di Selat Sunda, Pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan juga segmen Jawa Timur sampai ke Bali.

Dalam buku “Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone” yang dibuat oleh Anthony Reid, menyebutkan bahwa guncangan gempa pada sat itu lebih besar dan sangat kuat dibandingkan gempa bumi yang pernah terjadi sebelumnya.

Meski tidak ada catatan mengenai dampak gempa di Buitenzorg, namun di Batavia terdapat puluhan rumah, gedung, dan lumbung yang rusak parah. Selain itu, 28 orang dilaporkan hilang.

 

Leave a Reply