Geliat ekonomi di Bogor tempo dulu sudah dimulai jauh sebelum negeri ini dijajah oleh Belanda. Di masa kerajaan Sunda Galuh misalnya, Bogor sudah menjadi sebuah dayeuh atau ibukota untuk kerajaan Sunda Pakuan dengan rajanya yang terkenal, Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Pertukaran kebutuhan pada awalnya dilakukan dengan menggunakan sistem barter, sebelum akhirnya memakai mata uang yang diadaptasi dari luar. Kedatangan VOC semakin mempengaruhi penggunaan mata uang untuk menggantikan transaksi jual beli dengan sistem barter.

Di Bogor sebenarnya terdapat banyak lokasi yang dijadikan sebagai pasar rakyat tempat bertransaksi jual beli berbagai kebutuhan. Dari yang berukuran kecil yang biasanya berlokasi di dekat perumahan sampai yang berukuran luas yang terletak di tempat strategis di tengah kota.

Barang-barang kebutuhan yang dijual di pasar-pasar rakyat tempo dulu sangat beragam, mulai dari pakaian, kain dan sarung, perlengkapan untuk memasak, hingga makanan yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan.

Beberapa lokasi di Bogor yang sejak dahulu digunakan untuk transaksi jual beli antara lain: Pasar Kebon Jahe yang terletak di samping kuburan Belanda Memento Mori, Pasar rakyat di Pejagalan, Pasar rakyat di Pangkalan Warung Jambu, Pasar Ciluar, Pasar rakyat di Ciampe, Pasar Rakyar di Dramaga, Pasar Hewan di Ahmad Yani, Pasar rakyat di Cilendek, Pasar rakyat di Panaragan, dan lain sebagainya.

Lukisan yang menggambarkan suasana pasar rakyat di Buitenzorg
Lukisan yang menggambarkan suasana pasar rakyat di Buitenzorg

 

Kebutuhan rakyat akan tempat untuk menjajakan barang dagangannya dimanfaatkan dengan betul-betul oleh para penjajah. Mereka dengan seenaknya mengakui lahan kosong menjadi milik mereka, lalu menyewakannya kepada orang-orang yang ingin berjualan. Seperti halnya Pasar Bogor yang dulunya merupakan lahan sewaan dan dibuka hanya dua kali seminggu.

Setelah Bogor makin berkembang, maka kebutuhan akan pasar tradisional pun mulai dipikirkan oleh pemerintah Kolonial. Beberapa pasar tradisional pun mulai didirikan salah satunya adalah Pasar Anyar.

Galeri foto Pasar Rakyat di Bogor tempo dulu
(Het Nationaal Archief)

 

 

Leave a Reply