Asal usul pemberian nama tempat di Bogor umumnya didasarkan pada kondisi alam (geofrafis) di daerah tersebut, termasuk juga nama-nama hewan, sejarah, maupun perilaku lingkungan dan manusianya. Sayangnya, di Bogor sendiri ada banyak nama tempat yang kini sudah menghilang bergantikan nama baru yang dianggap “lebih modern”.

Sebagian besar nama tempat di Bogor menggunakan kata Ci, khususnya daerah yang berada di sepanjang aliran sungai. Dalam bahasa Sunda, Ci artinya Cai (Air), beberapa tempat yang menggunakan nama tersebut antara lain: Ciapus, Ciluar, Cimanggu, dll.

Penggunaan nama “Ci” atau Cai itu biasanya dengan tumbuhan atau hewan seperti Ciapus berasal dari kata apus yang berarti bambu begitu juga Ciawi yang diambil dari kata “awi” yang memiliki arti yang sama. Sedangkan Cimanggu dari kata manggu atau manggis yang mungkin saja dulunya aliran sungai yang ada di daerah ini melintasi sebuah kebun manggis sehingga dinamakanlah dengan daerah Cimanggu. Begitu juga Ciwaringin dan Cipakancilan.

Selain itu, pemberian nama tempat di Bogor pun lebih banyak menggunakan gabungan dua patah kata yang disesuaikan dengan kondisi alam dan lingkungannya seperti Warung Jambu, Tegal Lega, Tegal Gundil, Pasir Kuda, Lebak Pilar, Gunung Batu, Gunung Gadung, Pasir Muncang, dll.

Penggunaan satu patah kata biasanya ditentukan sesuai keunikan atau apa yang menjadi dari daerah tersebut seperti Tajur, Dramaga atau Darmaga, Bondongan, Empang, dsb.

Sedangkan untuk daerah pinggiran sungai yang biasanya terdapat tempat untuk menyebrang diberi nama sesuai kondisi alamnya. Tempat yang dasarnya sungainya dangkal dengan arus yang lambat disebut “Bantar”, sedangkan tempat yang berarus cukup deras disebut “Parung”.  Daerah ini kemudian berkembang menjadi kawasan pemukiman dan mendapatkan nama sesuai apa yang menjadi ciri khas di daerah tersebut misalnya Bantar Jati, Bantar Peuteuy, Bantar Kambing, Parung Angsana, Parung Banteng, dll.

Daerah Bogor yang berada di dataran tinggi dengan tanah berbukit membentuk banyak air terjun disebut Curug, misalnya Curug Luhur, Curug Nangka, dll. Selain itu, ada juga nama tempat yang dikaitkan dengan aktivitas penduduknya seperti Bondongan, Parakan, Babakan, Lawang, Pabuaran, dll. Adapun yang sifatnya sangat abstrak yaitu Sindang yang berarti “mampir” atau “Singgah” seperti Sindangbarang, sindangresmi, dll.

Penggunaan Pabuaran dan Babakan memiliki makna yang sama yaitu “menetap di kampung yang baru”. Kata Pabuaran berasal dari kata “bubura” yang berarti menetap di tempat yang baru karena kerasan atau betah tinggal di dalamnya. Sedangkan Babakan artinya “Kampung Baru”.

Dari nama tempat yang berdasarkan kondisi alam, lingkungan, dan masyarakatnya ada juga tempat di Bogor yang menggunakan nama tokoh atau orang terpandang di daerah tersebut, misalnya Cunpok dari nama Tan Cun Pok, Pacilong dari nama Pak Cilong, Gang Abesin, Gang Ardio, Gang Sapin, Gang Nurkim, dsb.

Pemberian nama kampung juga menggunakan nama bangunan atau tumbuhan yang ada di daerah tersebut seperti Gang Karet yang dulu didepannya berdiri pohon karet kebo berukuran besar, Gang Ledeng, Gang Masjid, Gang Maxim, Gang Menteng, Gang Kelor, dll.

Setelah masa kemerdekaan, penggunaan nama pahlawan dan tokoh nasional lebih banyak digunakan untuk menggantikan nama jalan dan tempat yang lama seperti Jalan Ir Juanda digunakan untuk menggantikan nama Jalan Raya, Jalan Bioskop digantikan menjadi Jalan Mayor Oking, Jalan Tjikeumeuh diganti menjadi Jalan Merdeka, Jalan Banten menjadi Jalan Kapten Muslihat, dan Jalan Jakarta menjadi Jalan Ahmad Yani.

 

Leave a Reply