Jembatan satu duit adalah nama jembatan yang menghubungkan daerah Warung Jambu dengan Jalan Ahmad Yani. Siapa sangka, di balik pemberian nama jembatan ini ternyata ada beragam cerita menarik mengenai sejarah dan asal muasal jembatan satu duit ini.

Jembatan satu duit konon sudah ada sejak awal abad ke-19 dan digunakan untuk menunjang aktivitas warga pada saat itu.

Jembatan ini pada awalnya berupa jembatan yang terbuat dari bambu, namun setelah Daendels menggagas proyek Jalan Raya Pos rangka jembatan mulai dibuat lebih kokoh agar bisa menahan beban kendaraan yang melintasi di atasnya, terutama kereta kuda yang membawa orang atau barang.

Bentuk fisik jembatan pada saat itu tentu berbeda dengan kondisi sekarang, karena pada tahun 1800an, sungai Ciliwung yang melintasi daerah Warung Jambu terbagi menjadi dua aliran seperti dalam litografi bertahun 1882 di bawah ini.

Sejarah jembatan satu duit
Keterangan gambar: Kereta hendak menyeberangi sungai melalui jembatan kembar di Tanah Sareal Bogor (1882-1889) Karya Josias Cornelis Rappard, Seorang Kolonel infantri

Pada jaman dahulu, jembatan ini dikenal dengan nama jembatan kedung badak namun setelah tahun 1930an, dibangunlah jembatan baru dengan rangka besi yang lebih kokoh, terlebih lagi pada saat itu kendaraan berbahan bakar bensin sudah banyak berseliweran di jalan-jalan raya.

Belum diketahui secara pasti kapan mulai digunakannya nama jembatan satu duit menggantikan nama jembatan kedung badak yang sudah dipakai sebelumnya. Namun yang jelas, ada beberapa cerita menarik terkait pemberian nama tersebut, di antaranya adalah:

  • Satu duit berasal dari kebiasaan orang-orang Belanda yang memberikan uang sebanyak satu gulden kepada penjaga jembatan saat akan melewati jembatan ini menuju pusat Kota Buitenzorg.
  • Satu duit berasal dari kebiasaan masyarakat tempo dulu yang sering melemparkan satu uang recehan ke kali di bawah jembatan agar terhindar dari segala bencana yang disebabkan mahluk halus, apalagi aliran sungai di bawahnya cukup deras. Kondisi ini dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai ritual minta izin, sama seperti ritual menekan klakson saat melewati daerah yang dikenal angker.
  • Nah, hal yang berbeda dilakukan para meneer dan nyonya-nyonya Belanda yang melewati jembatan ini di masa lalu. Mereka biasanya akan melempar uang koin di atas jembatan sambil bermohon atau meminta harapan. Hal seperti ini cukup umum dilakukan di Eropa tempo dulu, dengan melemparkan koin ke dalam sungai atau sumur dengan tujuan agar doa atau harapannya bisa terkabul.
  • Dari ritual melempar uang recehan itu, muncul nama Situ Duit yang menggambarkan kondisi Sungai di bawah jembatan yang penuh oleh uang-uang recehan. Sebagian warga Bogor masih ada yang menyebut jembatan ini dengan nama Jembatan Situ Duit.
  • Menurut penuturan para sesepuh Bogor, diceritakan bahwa sekitar tahun 1960-an, di daerah warung jambu sebelum masuk jembatan para supir akan dikenai tarif retribusi sebelum bisa melewatinya. Nah dari uang yang diberikan kepada petugas jaga itulah konon menjadi cikal bakal pemberian nama Jembatan satu duit.

Sejarah Jembatan Satu Duit mempunyai beragam cerita yang cukup menarik. Terlepas dari manakah yang lebih tepat, jembatan satu duit hingga saat ini masih cukup kuat menahan beban laju aktivitas Kota yang terus berkembang.

Namun, tentu saja jembatan ini harus mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah karena umurnya yang sudah tua ditambah lagi dengan aliran sungai di bawahnya yang semakin curam, menjadikannya sangat berbahaya jika sewaktu-waktu jembatan ini tidak lagi kuat menahan beban di atasnya.

Demikian ulasan mengenai Sejarah dan Asal Muasal Jembatan Satu Duit di Warung jambu Bogor.

Semoga bermanfaat

Judul: Sejarah dan Asal Muasal Jembatan Satu Duit
Penulis: Aries Munandi

Leave a Reply