Jembatan Merah pada tempo dulu - Bogor Heritage

Post Top Ad

Jembatan Merah pada tempo dulu

Share This

Jembatan Merah pada tempo dulu


Jembatan Merah berdiri melintasi Sungai Cipakancilan di bawahnya. jembatan yang sudah ada sejak tahun 1800an ini sering kali berubah-ubah warnanya, apalagi di masa kampanye pemilu tiga partai di masa Orde Baru. Bagi sebagian orang, jembatan merah pada tempo dulu ini dianggap memiliki kenangannya tersendiri khususnya mereka yang pernah tinggal di dekat jembatan ini sejak lama.


Jembatan Merah terletak di Jalan Kapten Muslihat. Saat negeri ini masih dijajah Belanda, jalan ini dikenal dengan sebutan Jalan banten atau Bantammer weg. Sungai di bawahnya adalah Sungai Cipakancilan yang menurut sejarawan Bpk Saleh Danasasmita dalam buku “Sejarah Bogor” dibuat oleh Kanjeng Aria Natanegara seorang demang (Bupati) Kampung Baru di tahun 1776.


Pada awalnya, sungai Cipakancilan dibuat untuk mengaliri persawahan di sebelah utara dayeuh Bogor mulai dari Cimanggu, Kebon Pedes sampai Cibuluh dan Kedung Badak hingga kemudian berakhir di Sungai Ciliwung. Sedangkan aliran Sungai di sekitar Paledang dipecah menuju kanal Cidepit yang mengalir sampai ke Mantarena Lebak.


Jembatan Merah adalah jembatan yang penuh sejarah dan nostalgia tersendiri bagi mereka yang pernah mengalaminya. Para sesepuh Bogor pernah bercerita kalau di sekitar Jembatan Merah ini setiap pagi di Hari Minggu maupun hari libur lainnya akan ramai dikunjungi oleh para warganya baik dari kalangan pribumi dan orang-orang Belanda, termasuk para Gubernur Jenderal yang sering menyempatkan diri melihat kegiatan penduduk Bogor saat itu di waktu senggangnya.


Kawasan ini juga menjadi tempat favorit Mr. Treub seorang direktur Kebun Raya untuk mengambil foto. Bersama keluarga atau koleganya, ia sering berjalan-jalan di sekitar jembatan Merah dengan kereta kudanya.


Keramaian Jembatan Merah tidak hanya pada siang hari saja, pada malam harinya terutama di Malam Minggu atau Malam hari besar. Para remaja berdarah Eropa dan priyayi yang bergabung dalam klub sosial “Societeit” tak akan melewatkan waktu untuk berjalan-jalan di sekitar Jembatan Merah yang saat itu dipenuhi oleh warung-warung jajanan khas Bogor.


Di bawah Jembatan Merah mengalir air Sungai Cipakancilan. Airnya waktu itu masih sangat deras dan jernih. Tidak ada tumpukan sampah di pinggirnya, sangat rapih tertata. Penduduk lokal yang menetap di sekitaran Jembatan Merah sering menangkap ikan dengan cara dipancing maupun dijala.


Tepat di jeram di bawah jembatan, pada waktu itu masih cukup banyak ikan-ikan yang berlompatan dengan lincahnya. Beragam jenis ikan hidup di dalamnya. Kalau beruntung, para penduduk bisa mendapatkan lebih dari 5 ekor ikan dalam sehari. Setelah hari mulai gelap, kegiatan mencari ikan ini akan digantikan oleh aktivitas hewan malam yang mulai keluar mencari makanan di pinggiran sungai.


Di pinggiran Sungai di dekat Jembatan Merah masih banyak pohon buah-buahan yang tumbuh dengan buahnya yang lebat, seperti durian, rambutan, dan limus. Di antara semak belukar tumbuh buah-buahan liar seperti arbei dengan warna merahnya yang menyala menggoda selera.


Tidak hanya kenangan indah tentang suasana dan kondisi alamnya, tapi Jembatan Merah juga memiliki kenangan akan sejarah pertempuran di masa setelah kemerdekaan. Di sekitar Jembatan Merah ini juga para pejuang bertaruh nyawa untuk membela harga diri bangsa dan negaranya. Di antara tokoh pejuang yang paling terkenal dengan pertempuran di sekitar Jembatan Merah ini adalah Kapten Tubagus Muslihat.


Jembatan Merah kini dipercantik dengan lampu-lampu dan warna merah menyala. Seperti masa lalu, kawasan ini akan selalu ramai oleh para pengunjung yang datang untuk sekedar berjalan-jalan maupun mencari jajanan khas Bogor yang banyak bertebaran di sepanjang Jalan dekat Jembatan.


Foto Jembatan merah dari masa ke masa 


Jembatan Merah pada tempo dulu 123




Jembatan merah sekarang





No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Pages