Sejarah Jalan Raya Puncak dibangun saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Saat itu sang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels menginginkan pembangunan jalan raya untuk mempercepat pengiriman pos, sesuai tujuannya jalan ini kemudian dinamakan Jalan Raya Post atau dalam bahasa Belanda bernama Grotepost weg.

Kebetulan Jalan di puncak menjadi salah satu bagian dari jalan raya pos yang digagas Daendels itu. Selain untuk melancarkan pengiriman surat-menyurat, jalan raya ini dibangun juga untuk memudahkan pengiriman barang dan hasil panen, termasuk juga untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris.

Sejarah jalan raya puncak diawali dari pembangunan jalan yang dimulai dari Anyer ke Batavia (Jakarta) menuju Buitenzorg (Bogor) sebelum mencapai Bandung dengan membelah puncak Gunung Megamendung.

Proses pembuatan jalan yang melintas area pebukitan dengan gunung-gunungnya yang terjal itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itulah, Daendels mengutus Kolonel Von Lutzouw dari Kerajaan Belanda untuk memimpin langsung proyek pembangunan jalan raya tersebut.

Sebagian besar pekerja yang diperbantukan untuk proyek besar ini berasal dari Jawa. Karena terkendala oleh kondisi medan yang berbukit-bukit itu, pemerintah Hindia Belanda harus menganggarkan hingga lebih dari 30.000 ringgit (di luar beras dan garam untuk persediaan makanan pekerja) untuk proyek besar tersebut.

Umumnya pekerja akan menerima upah sebesar 10 Ringgit per bulannya, upah ini bisa dibilang lebih besar dari proyek jalan raya pos di daerah lain yang umumnya para pekerja dibayar 1-6 ringgit per bulannya. Bahkan di beberapa daerah, ada pekerja yang tidak mendapatkan bayaran sama sekali dan dipaksa untuk ikut bekerja.

 

Untuk membelah Gunung Megamendung yang memiliki ketinggian 1.880 mdpl ini dibutuhkan lebih dari 400 orang pekerja. Sebelum jalan raya pos dibangun, di kawasan ini memang sudah ada jalan setapak menuju Cipanas. Jika sebelumnya dari Batavia ke Cipanas memakan waktu hingga 8 hari, maka setelah pembangunan jalan raya puncak ini selesai, jarak tempuhnya bisa lebih cepat dan dapat dilalui hanya dalam waktu satu hari saja.

Walter Kincloch (1853) pernah mencatat bahwa jalanan di daerah Cisarua saat itu masih sangat terjal, bahkan untuk bisa melewati jalan-jalan yang mendaki tersebut dibutuhkan bantuan beberapa ekor kerbau untuk menarik kereta kuda. Itu sebabnya pula, setiap beberapa kilometer didirikan pos-pos penjagaan yang berfungsi untuk mengganti kuda maupun beristirahat.

Pembangunan Jalan raya Puncak berlangsung selama satu tahun yang dimulai dari Mei 1808 s/d September 1809. Sebuah prestasi besar yang diraih oleh Daendels, namun dibalik manfaatnya tersebut, pembangunan jalan raya pos ini telah memakan korban jiwa hingga lebih dari 12.000 rakyat Indonesia.

Leave a Reply