Kenangan di Jalan Ahmad Yani - Bogor Heritage

Post Top Ad

Kenangan di Jalan Ahmad Yani

Share This
Deretan pohon kenari berukuran besar berjajar meneduhi jalan yang dulu bernama Jalan Djakarta ini. Sebelum tahun 2000an, di pinggir kiri dan kanan jalannya masih bisa ditemui rumah-rumah kuno yang asri dan penuh sejarah. Deretan pohon kenari besar masih bisa kita jumpai di sepanjang Jalan, tapi sayangnya hanya sedikit saja bangunan peninggalan Belanda yang masih tersisa di jalan yang penuh kenangan ini.

Kenangan di Jalan Ahmad Yani


Jalan Ahmad Yani dulu bernama Jalan Jakarta, yang dalam bahasa Belanda disebut Bataviasche weg. Nama jalan ini disebutkan dalam peta-peta Buitenzorg bertahun 1900-1945. Penggunaan nama Jakarta ini adalah karena jalan raya ini pernah menjadi satu-satunya jalan yang menghubungkan Bogor dengan Jakarta.

 
Dari arah utara, Jalan Ahmad Yani berawal dari Jembatan Satuduit di Warung Jambu, dan berakhir di kawasan Air Mancur yang dulu terkenal dengan tugu Wittepaalnya yang megah. 

 
Setiap berbuah, anak-anak sekitar akan berjalan menyusuri jalanan sembari memunguti buah kenari yang berjatuhan di selokan-selokan kering pinggiran jalan. Buah kenari memiliki lapisan kulit yang sangat keras sehingga untuk menikmatinya harus digeprek terlebih dulu baik menggunakan batu atau benda keras. 
 
Bagi para seniman, buah kenari yang keras itu bisa menjadi sebuah karya seni yang cukup menarik. Di pinggiran Kebun Raya Bogor tempo dulu akan bisa ditemukan para pedagang aksesoris yang menjual gantungan kunci maupun hiasan yang dibuat dari buah kenari.

 
Di bagian sisi barat dari jalan ini di masa kolonial masih berupa lahan perkebunan karet untuk menyuplai kebutuhan pabrik band Goodyear yang sudah berdiri sejak tahun 1935. Di dekatnya ada sebuah lapangan pacuan kuda yang cukup terkenal pada masanya. 

 
Setelah kemerdekaan, lapangan pacuan kuda ini berganti menjadi lapangan sepak bola. Setelah beberapa tahun kemudian baru diganti lagi menjadi komplek olahraga dan stadion Pajajaran yang sebelumnya bernama Stadion Purana.

 
HIngga saat ini, masih ada sisa-sisa bangunan kolonial yang berdiri hingga saat ini, salah satunya adalah Wisma Keuskupan Bogor yang sudah ada sejak masa penjajahan. 

 
Jika kita berjalan menyusuri jalan sampai ke arah Air Mancur, tidak jauh dari kawasan itu ada sebuah rumah peninggalan Bung Karno yang dinamakannya Srihana-Srihani. Rumah ini menjadi saksi hubungan asmara antara presiden pertama RI Soekarno dengan Hartini. Konon, rumah ini dipersembahkan sebagai tanda cinta kepada Hartini pada 7 Juli 1965.

Rumah persembahan ini dibangun di atas lahan seluas 1.200 meter persegi oleh arsitek Soedarsono. Rumah yang diberinama Srihana-Srihani ini memiliki 16 kamar, dengan pemandangan yang indah di halaman belakang yang berbatasan dengan aliran Sungai Ciliwung. Sekitar tahun 1972, rumah ini dibeli oleh keluarga Hasan Sastraatmadja, pendiri surat kabar Nusantara.

Di Jalan Ahmad Yani juga ada Kompleks Istana Swarna Bhumi, yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Wakil Presiden RI ke-2, untuk istri kelima, KRAy Nindyokirono (Norma Musa). Kondisi istana ini sudah tidak seindah dahulu, meski disampingnya kini telah berdiri sebuah hotel nan megah.


Setelah Sri Sultan mangkat pada 1988, Ibu Norma sudah tidak lagi mendiami Swarna Bhumi, sehingga kompleks istana ini menjadi kurang pengawasan. Alhasil, Istana menjadi porak poranda karena banyak dipreteli.


Jalan Ahmad Yani kini tidak serimbun dahulu, rumah-rumah kuno nan asri telah banyak yang hilang. Lambat laun, kawasan ini akan berubah menjadi kawasan yang super sibuk, meninggalkan berjuta kenangan manis yang tidak lagi bisa didapatkan.



 

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Pages