Sejarah sebuah tempat akan terus bergulir sering berjalannya waktu. Sebuah tempat akan menjadi saksi bisu perubahan peradaban kota, tempat di mana para pelakunya hanya tertinggal segelintir orang saja. 

Di Kota Bogor, tepatnya di tengah kota ada sebuah tempat yang memiliki banyak kenangan bagi orang yang pernah bermukim di dalamnya. Daerah itu dulu dikenal dengan nama Sempur – Kedoenghalang.

Daerah sempur hingga jalan gunung gede dahulu memiliki nama Kedoenghalang. Komplek pemukiman ini dibangun pada tahun 1926 s/d 1930 yang diinisiasi oleh Thomas Karsten.

Pada awalnya, perumahan di kawasan Sempur kedoenghalang dibangun untuk rumah tinggal mereka yang berkepentingan terhadap jalannya pemerintahan seperti peneliti belanda, pegawai pemerintah, dan tentunya para penguasa kolonial.

 
sempur tempo dulu
Perumahan Sempur tahun 1920

 

Pada masanya, daerah ini memiliki suasana yang sangat asri, burung-burung beragam jenis berkicau melompati dahan dari deretan pohon yang berjajar di pinggiran jalan dan halaman-halaman rumah. Bangunan-bangunan sangat kokoh, dengan atap yang tersusun dari rangka kayu jati. Penataan pemukiman sangat selaras dengan alam dan lingkungan pada waktu itu, beda jauh dengan kondisi sekarang yang lebih mengedepankan sisi ekonomi saja.

Kawasan pemukiman di Sempur dan Kedoenghalang pada waktu itu dianggap sebagai kawasan elit, hal ini tercermin dari pemberian nama-nama jalan yang menggunakan nama-nama gunung.

Sebuah tempat terbuka yang dikenal dengan nama Vontland ditanami dengan bunga-bunga indah beraneka warna dan aneka tumbuhan hias yang dapat menyegarkan pandangan mata. Kelak tempat terbuka ini dikenal dengan nama Plant Zone atau orang-orang sekitar menyebutnya sebagai Taman Kencana.

Sebagai kawasan pemukiman yang elit, di daerah ini juga dibangun dua gedung yang menjadi tempat penelitian dan pendidikan, salah satunya adalah gedung yang kini digunakan sebagai FKH IPB.

Masa kolonial banyak noni-noni Belanda yang menghabiskan waktu ditempat ini. Namun kebahagiaan mereka mulai terenggut setelah jepang menduduki Nusantara. Babak-babak keasrian dan keindahan berubah,Banyak rumah disita oleh Jepang.

Beberapa rumah menjadi penjara atau ruang tahanan tawanan jepang, umumnya wanita dan anak-anak Indo Belanda, salah satunya sebuah rumah yang terletak di Jl Papandayan.

Kemudian masa kemerdekaan, militer mengambil alih dan menguasai kawasan ini untuk dijadikan tempat tinggal para perwiranya. Lalu Gemeente mengambil alih untuk ditempati para pegawai kota praja.

Saat itu pemerintah memiliki kebijakan untuk menyewakan rumah-rumah disini pada siapa yang mampu membayar. Dari sinilah proses hak milik dilakukan. Salah satunya kebijakan wajib membeli rumah bagi para penyewa, sehingga tak heran banyak orang Belanda, Tionghoa, hingga orang lokal memiliki sejarah tinggal ditempat ini.

 
 
donasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here